
Learning from the past, Crafting for the future
Assalaamualaikum Sam… Apakabar dirimu di sana? Semoga kedamaian Allah selalu menyertaimu.
Sudah 106 hari kita semenjak kita berkenalan, kendati tak banyak yang kutau dari dirimu. Namun semoga kita bisa selalu berkomunikasi dengan baik dalam konteks sebuah ke(ny)amanan. (Ny)aman sederet kata dua sifat: Nyaman dan Aman. Kata yang berulang kali kau tekankan semenjak masa-masa awal kita terkoneksi sampai hari ini.
“Carpe Diem!” Dua kata dalam bahasa Latin yang dipetik dari puisi Horace. Oh, ternyata artinya “Seize the day”. Segera saat kata itu kau kirimkan, aku melakukan aktivitas googling. Maklum, saat itu kegengsian “tak mau terlihat bodoh” membuatku enggan bertanya balik padamu tentang arti dua kata itu. Ya, selama ini aku beryukur akan kemudahan akses internet yang kudapat, ianya membawa bermilyun Gigabyte informasi langsung melalui ujung jariku. Alhamdulillah…
“Carpe Diem!” atau “Have a Meaningful Life” adalah kata kata inspiratif yang menyemangati hidupku akhir-akhir ini. Umurku hampir genap 24 tahun, Sam. Seharusnya 24 tahun adalah rentang waktu yang cukup lama untuk mempunyai kehidupan yang penuh makna. Itu seharusnya. Kesadaran akan pentingnya hidup dengan memberi sebanyak-banyaknya dan bukan hanya menerima sebanyak-banyaknya, berangsur pulih. Pulih dari tidur panjangku ketika kau hadir dengan kata hikmah yang terbungkus dengan kesabaranmu berteman denganku. Betapa tidak…, Tak banyak orang yang sabar dan mengerti menyikapiku dengan bijak. Tak banyak yang bisa mendiamkan pikiranku yang sedikit liar, aneh dan kadang kebanyakan “ngga perlu”nya. Tak banyak yang bisa mengarahkan pikiranku yang melompat-lompat. Tak banyak yang sabar menghabiskan waktu menjelajahi hutan ketidakseimbangan-ku dan bersedia membantuku tumbuh kembang produktif…. Tak banyak…
Selebihnya adalah mereka yang hanya bisa menghujat, mengalungkan title liberal, cewek “ga genah” atau macam-macam. Mereka hanya bisa mewarnaiku dengan spidol-spidolnya. Hitam untuk wanita sesat (Alhamdulillah… selama ini belum ada yang menggelariku fasiq atau kafir), Merah untuk bad mark ladies. Kuning untuk “hati-hati” untuk dijadikan teman atau pasangan hidup. Dan kau? kalau kau pun terpaksa mewarnaiku… Kuharap kau mewarnaiku dengan warna transparan.. Kemudian berikan kumpulan spidol berwarna warni-mu kepadaku. Biarkan aku sendiri menggambar karakter perjalanan hidupku.
Seingatku ada beberapa orang inspirator dan fasilitator sepanjang 23 tahun hidupku ini. Beberapa muncul saat aku mondok di pesantren dulu. Beberapa kutemui saat aku di negri seribu menara. Selanjutnya kami berpisah, sibuk dengan urusan masing-masing, kuliah, cari uang atau menikah. Hanya sesekali bertegursapa lewat dunia maya atau message via handphone. Salah satu dari mereka menikah dan jadi Pak Ustad di salah satu kota di Jawa Timur, mengajarkanku untuk berpikir positif dan optimis berani untuk mengambil kesempatan yang ada. Satu teman akhirnya menikah (indahnya) dengan teman perempuanku juga dan sekarang mereka sudah punya anak satu. Ia selalu mampu membakar semangatku dan cerdas memilih kata-kata pujian yang tidak tampak sedang menghiburku: “Lledakan-ledakan kecil itu sebenarnya potensi besar, hanya butuh kesabaran untuk mengelolanya”. Satu teman adalah seorang single kreatif inspiratif dan produktif, tempatku dulu “ngangsu kawruh dan mengenalkan aku sisi lain hidup di Kairo, napak tilas jejak peninggalan dinasti Islam sekitar Khan Khalili. Kini ia sedang bergulat dengan ekspedisi pencarian makna kehidupan dalam naungan teduh langit Jogjakarta. Oh Allah… pintaku satu… Kau lindungilah dia di sana sehingga yang dia temukan adalah kebenaran dan kedamaian.
Tentu saja mereka tidak bisa optimal membimbingku seperti dulu. Lagipula siapa yang mau mengorbankan dirinya untuk mengurus orang lain sepenuh hatinya kecuali ada ikatan cinta. Adakah cinta sebagai motif yang membuat kita berkorban seperti itu? Kecuali cinta ibu kepada anaknya atau matahari kepada manusia, adakah orang berniat murni membantu dan sharing banyak dengan oranglain tanpa tendensi? Ok lah, tak usah dipersoalkan … mereka juga punya kepentingan dan tujuan hidup masing-masing. Atas hak apa aku mengekang orang untuk selalu siap sedia memberikan bantuan inspiratif. Bagaimanapun bagiku mereka semua adalah karunia besar dalam hidupku. Secara tidak langsung mereka turut serta membentuk diri dan profil hidupku yang sekarang ini.
Kebanyakan dari inspiratorku adalah laki-laki. Karena reason dan pola pikir mereka, menurutku, lebih menyakinkanku dari perempuan. Entah kalau aku salah…Wanita lebih mengedepankan perasaan dalam sesuatu hal. Setidaknya aku merasakannya, karna aku perempuan. Atau buat begini saja, aku belum menemukan perempuan yang bisa menjawab kegelisahan-kegelisahanku kecuali sedikit. Mmm… Makanya jangan heran, Sam. Sejak dulu aku ingin punya suami saleh yang bisa menjadi guru kehidupanku. Shalih vertical dan horizontal. Artinya ia tidak hanya rajin beribadah tapi juga shalih berkomunikasi dengan insan dan alam sekelilingnya. Sehingga aku selalu bisa belajar banyak hal darinya atau sama-sama mengkaji sesuatu yang kami belum tau dengan (ny)aman. Ia bisa mengarahkanku ke jalan yang benar, membetulkan jika aku salah tanpa harus menghujatku. Karena menurutku setelah menikah seharusnya wanita bukan hanya tenggelam dalam tumpukan baju, piring dan gelas atau terpolusi oleh kepul uap periuk nasi saja. (Eh, jaman sekarang udah pakai rice cooker ya, Sam?) Kedengaran seperti prinsip feminisme, Sam? Ah, aku tidak perduli dengan feminisme. Adakah nabi Muhammad membatasi gerak langkah seorang Aisyah dalam belajar? Justru Sayyidah Aisyah RA lah seorang faqih yang disegani dan dijadikan rujukan di kalangan sahabat dan sahabiyat karna iklim edukasi kondusif dan konstruktif –yang (ny)aman- yang diciptakan oleh baginda Nabi . Bagiku pernikahan adalah seperti sekolah kehidupan, Sam. Aktivitas belajar dan transfer ilmu seharusnya tidak berhenti setelah iijab kabul. Hak istri untuk mendapatkan bimbingan dan fasilitas pembelajaran dari suaminya. Ya, belajar untuk bekal kehidupan di akhirat kelak…Maka aku rasa akan sangat bagus jika ada orang yang selalu sedia menjaga, membimbing dan membersamai tumbuh kembang seorang wanita dan bersamanya kelak menumbuhkan benih generasi baik masa depan.
Sam, banyak yang harus dibenahi dariku. Penyakit macam-macam yang kuderita. Aku dengar kau seorang yang lebih generalis ketimbang spesialis. Kamu bisa dan tau macam-macam bidang. Hmmm… sama denganku, Sam… Aku selalu tertarik dengan hal-hal baru. Bedanya mungkin di tingkat kematangan ilmu yang dipelajari. Kau masuk sampai akar-akarnya. Kalau aku belum selesai dengan satu perkara, sudah pindah ke benda baru. Konsep-konsep penting yang “pernah” menarik antusiasku tidak terakumulasi matang di otakku. Sehingga membuat logikaku terlihat rancu .
Penyakit kronis sebuah stagnasi “Pengujaran Pikiran” juga menjangkitiku. Balon-balon makna yang tervisualisasi dalam pikiranku tidak bisa efektif terkoneksi dengan syaraf impuls di otakku. Sehingga yang terjadi adalah otak mengirim signal putus-putus ke lidah. Hal ini menyebabkan kata-kata yang keluar dari mulutku tidak beraturan dan jika didengarkan seringnya keluar tidak sesuai dengan apa yang pikiranku inginkan. Wah, kenapa bicaraku mendadak seperti scientist saja ya. Mmm, itu barusan kubaca disebuah artikel kedokteran di internet sehari yang lalu. Pikirku saat itu mungkin aku ada physical disorder. Kalau menurutku ada benarnya juga, sih. Hehehe…
Oh, ya. Menurut analisisku pribadi, aku juga memiliki mental disorder, Sam. Seperti yang kau katakan beberapa malam yang lalu: Ketidakseimbangan. Nah, parahnya lagi penyakit stagnasi “Pengujaran Pikiran” makin kronis karena didesak rasa takut akan terulangnya pengalaman tatkala aku gagal untuk memahamkan lawan bicara. Kau tau itu, Sam… Berapa kali aku tergagap-gagap berbicara dan mencoba mengungkapkan pendapat denganmu. Kadang aku lebih cenderung memilih untuk diam seperti orang bisu atau terjangkit sariawan. Itulah mengapa aku lebih suka menulis daripada berbicara walaupun aku juga tau tulisanku sering tidak bisa dipahami atau dimengerti oleh pembaca. Kalau sudah begini, aku ingin kamu masuk ke otakku, lihat saja kumpulan slide gambar-gambar bergerak yang tervisualisasi di sana. Agar kau simpulkan dengan sukses apa yang ingin kukatakan.
Banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu, Sam. Being A Freedom writer… Sementara ini mungkin aku lebih nyaman untuk menulis apa yang ada dalam otakku. Kau tak harus ada selalu di sampingku. Kebutuhan minimalku terhadapmu hanya kebutuhan untuk didengarkan. Lebih dari itu seperti sharing hal berkaitan pengalamanmu, “editan kritis”mu akan pikiranku, dan pelurusan jalanku dengan cara bijak- akan sangat kutunggu-tunggu dan kuapresiasi. Anyway, tak ada paksaan… Kau bebas…
Banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu, Sam. Harapku simple … Sesekali mampirlah kemari… Itupun jika kau berkenan untuk tetap mendengarkanku, untuk extra sabar meladeni ke”ngeyelan”ku dan untuk menuntun dan membersamai langkahku berjalan mencapai cahaya kedamaian.
Gombak, 24 May 2009
Curhat Senja…
Said
aku harus komentar apa? aku tak tau, apakah di sana ada yang menyebar spidol kuning tentang aku? aku tak tau. lebih tepatnya, aku tak tau perjalanan hidupku.
spidol hitam mungkin sudah tergores. namun, siapa orang yang tega menggoreskan warna itu kepadaku? orang gila.
(eh, tekan ENTER kok nggak mau pindah baris? susahnya)
aku tak mengharapkan warna-warna itu. biarkanlah aku menjadi dewasa.
semakin dewasa saja kau, Win, dengan goresan spidol dan goresan cintamu. seratus persen aku memahami tulisanmu, merasuk ke otakku, dalam. aku harus berkomentar apalagi? tentang spidol, atau tentang cinta, atau tentang kamu. Sam! aghh, itu urusan pribadimu untuk dekat dengan Sam. aku jadi ingat, dulu aku sempat mendengar sebuah nasihat, agar aku, yang laki-laki, meminta nasihat kepada sesama laki-laki, sharing kepada teman yang laki-laki. tapi rupanya berbeda dengan kamu. kau tulis di atas, kamu mencurahkan pikiranmu kepada teman laki-laki, padahal kamu perempuan. itulah mengapa sekarang aku menjadi orang bingung, banyak pikiran, dan tak bisa merampungkan skripsi.
wah, jadi panjang. ceritamu dan curhatku bertumpuk di sini. bebas saja....
Said
Selamat pagi win...
Semalam aku iseng-iseng ngeblog, lama sekali ga manulis dan ga jalan-jalan..pas aku ke tempatmu, ada tulisan baru...:)
Aku (merasa) sangat paham dengan beberapa paragraf yang kamu tulis, sementara sebagian masih abu-abu bagiku. Mungkin guru kita sama, seseorang yang berada di Jogja itu, dan sepertinya kita harus mengucap terimkasih untuknya..semoga kita dipertemukan dalam satu waktu dan tempat nantinya.
Terus terang aku tidak terlalu mengenalmu ketika sama-sama berada di sini, sehingga aku tidak tahu tentang spidol-spidol dan label yang disematkan padamu. Win yang kukenal, justru jauh dari label-label itu...jadi mengenali orang lain itu sangat subyektif...
Lalu, orang-orang yang menjadi inspiratormu itu, semoga mereka bulanlah alasan sesungguhnya kamu menjalani hidup. Aku hanya takut, jika mereka yang menjadi alasanmu, kamu akan kehilangan keseimbangan ketika mereka hilang. Berusahalah untuk menjadikan dirimu sebagai alasan menjaalni hidup, karena kau takkan mungkin kehilangan alasan bukan..? Aku sendiri sedang berusaha seperti itu...
Dan terakhir, sedikit rapikan lagi tulisannya. Spasi, koma dan kawan-kawannya sangat penting untuk diperhatikan. Koreksi juga tulisanku dalam hal ini...
Sampai jumpa di lain kesempatan...;)
Said
@ dayad:
Yad, makasih udah bertandang lagi di blog-ku :)
anyway... terserah siapa ajha ...laki2 atau perempuan... selama bisa jadi temen sharing yg baik dan bisa saling membantu..it's OK,Yad.
kudoakan semoga skripsi mu cepat selesai... agar bisa cepat dipraktekkan ilmunya dan bermanfaat buat semesta...:)
Said
hello
this is from iran
can you visit my page for discotion?
weher is muhamad?
Said
Hi
generic acomplia
Therefore just have a close look at the acomplia drug that you are buying.
[url=http://eriecyam.org/]acomplia drugs[/url]
Basically acomplia is used as an anoretic anti obesity drug.
http://eriecyam.org/ - cheapest acomplia
Therefore just have a close look at the acomplia drug that you are buying.