Wednesday, August 05, 2009

Jerebu and Manohara

Living in KL today is not as comfortable as long time ago. Particularly when today “smog” covers the beautiful sky of KL. Global warming? Yes of course everybody knows about it. The sudden hourly changed weather; hot and cold. The changes of colour of the sky; blue, cloudy, dark. It makes us, the ladies in this hostel confuse whether to wash or not, to spread out the cloth in the sun to dry or not. To wash up the cloth and dry it up using wash machine in IIUM hostel is last option, yeah… considering that for the time being my clothes have being “bitten” by that machine. The button was pulled out, the embroidery was ripped out. Tragic,huh? ^_^ But in the case of emergency or exam period coming, I’ll use it again though. Hehehe…

Unfortunately, people here in Malaysia knows well that the real immediate cause of hourly changing of KL sky is imported smog from Sumatra. Sigh… Particularly from Riau! My beloved province, where I and my family live! Grr… What irresponsible person have done with the jungle… illegal logging, opening the jungle and burning it and pleasantly leave the fire uncontrolled so that the fire spread out!!

My Malaysian friend someday commented: “This Jerebu (smog in Malay language) was imported from your country, Win”. This comment is annoying as sentimental as “Indon” call or shout. It is like been marginalized and putting me into the corner. Almost one year I’ve been living in Malaysia, this feeling doesn’t emerge. I have many good Malaysian friends here in IIUM. The majority is postgraduate students who highly educated person and the lecturers are also very accommodative and anticipative. They more understands than other Malay people out there, that such sentiment between Indonesian-Malaysian should not played up or greatly exaggerated.

The “Jerebu” is not only matter gapping Malaysian-Indonesian. Beside the fights about the patent, copyright of songs and cultural products (batik, wayang etc), Manohara is also the best nowadays topic of sentimental story between Indonesia-Malaysia. I also shocked with this triangle story; this lady, her mom and Pangeran Kelantan. Only my family and friends in Indonesia who are not bored to teasing me around with kind of question “Win, how’s Manohara? Be careful there, ok!” Is it effect of intensive Indonesian media exaggeration or what? Here in KL, I don’t follow updated news of any kind of conflict Malaysian-Indonesia. That’s why even I myself who’s staying in KL don’t know about it. Coz it just wastes my time to follow this kind of topic.

But finally i feel it...The most shocking one -when I went back to my city, Pekanbaru- is this Manohara lady will play in a movie titled “Manohara” which tell the story of her tragedy as the wife of Pangeran Kelantan. What? Who is the right one now? At a glance it is likely tendencious story. Hmm… I don’t know! Anyway… The movie is coming soon…

I don’t take into consideration at all with “Indon” call or other sentimental comment until it just appears recently when I enter Malaysia returning from holiday. The immigration officer behaved like I am a labor force and she treated me like nothing good in me. Hmm… I just shocked that time what’s wrong with this lady. At least we are the same, she is human and me too. She is Muslimah (she wears hijab) and me too! Isn’t Islamic identity enough to be motive point in uniting Malaysian-Indonesian?

Anyway I don’t care… Which one is nicer? To be Indonesian or Malaysian? I’d rather claim and confess myself as A MOSLEM!! ^_^



Information: About 6 hours after i wrote this posting, there are 7 referrals, those who entered this blog by googling under keyword "manohara, jerebu, jerebu sumatra, indon movie" . See... coz today jerebu sangat laaa.... :(

Tuesday, August 04, 2009

Which one is sillier?

Bismillahirrahmanirahim

It’s for the second time Professor ask me to write down Arabic script using kufic style of calligraphy. I wonder why he ask us to do this kind of assignment. For the majority master student it might be kind of silly thing when we refer to the real principle of postgraduate level: critical analysis.

It's one assignment of subject i take for this semester: Islamic Art and Architecture (so..however still have relation,right?) So, what suppose us to do is just start to make it, instead of bubbling around. For this time, I successfully googled kufic picture published online in the jungle of Internet. And this the result… Arabic script of “Bismillahirrahmanirrahim” with kufic Bana’i style.

Oh..My… with no experience at all and no one to teach, finally I am on it!! Just keep counting the square accurately and ratio of every letter and then shake your pencil to make a line with ruler. Just it! Unbelievable… This is the easiest calligraphy I’ve ever tried to write! Even compared to Naskh style (Everybody knows naskh style because it is the general and formal, legible, and clear style we use in textbook, al-quran, newspaper, and basic fonts in Microsoft office. )

Honestly speaking I’m not good in calligraphy. Actually, I don’t know what kind of style that I write it with for the time being …. Hehehe… If I could say… it’s rather “a worm style” than Naskh style. Alhamdulillah, Allah make it all running smoothly. There are many friend of mine, Indonesian first year student. She didn’t move up to next level at all. Our fellow was so curious to what’s wrong with her, because this fellow knows well that she had answered the questions correctly. Hmm, finally she knows the reason… Her writing is so bad that we cant read and understand what she wrote. To be graduated from al-Azhar university is not enough write the answer of exam questions correctly but it is a must that your calligraphy writing must be clear in the lecturer’s eye. It’s terrific that she spent three years to stay in the same level of study because of her writing! Which one you prefer, spend three hours to do writing exercise or Three years to sit on the same level of study?

Yeah… Sometime we ought to spend a little bit of time to do a silly thing, then to get a hidden marvelous thing behind it.

2 August 2009


Note:

- the picture above got from http://www.flickr.com/photos/jamilarts/2735232036/

I forgot to capture handywork of mine, insyaAllah later on i'll upload here.

-the picture at the bottom is my work in last semester

Sunday, May 24, 2009

Learning from the past, Crafting for the future

Learning from the past, Crafting for the future

Assalaamualaikum Sam… Apakabar dirimu di sana? Semoga kedamaian Allah selalu menyertaimu.

Sudah 106 hari kita semenjak kita berkenalan, kendati tak banyak yang kutau dari dirimu. Namun semoga kita bisa selalu berkomunikasi dengan baik dalam konteks sebuah ke(ny)amanan. (Ny)aman sederet kata dua sifat: Nyaman dan Aman. Kata yang berulang kali kau tekankan semenjak masa-masa awal kita terkoneksi sampai hari ini.

“Carpe Diem!” Dua kata dalam bahasa Latin yang dipetik dari puisi Horace. Oh, ternyata artinya “Seize the day”. Segera saat kata itu kau kirimkan, aku melakukan aktivitas googling. Maklum, saat itu kegengsian “tak mau terlihat bodoh” membuatku enggan bertanya balik padamu tentang arti dua kata itu. Ya, selama ini aku beryukur akan kemudahan akses internet yang kudapat, ianya membawa bermilyun Gigabyte informasi langsung melalui ujung jariku. Alhamdulillah…

“Carpe Diem!” atau “Have a Meaningful Life” adalah kata kata inspiratif yang menyemangati hidupku akhir-akhir ini. Umurku hampir genap 24 tahun, Sam. Seharusnya 24 tahun adalah rentang waktu yang cukup lama untuk mempunyai kehidupan yang penuh makna. Itu seharusnya. Kesadaran akan pentingnya hidup dengan memberi sebanyak-banyaknya dan bukan hanya menerima sebanyak-banyaknya, berangsur pulih. Pulih dari tidur panjangku ketika kau hadir dengan kata hikmah yang terbungkus dengan kesabaranmu berteman denganku. Betapa tidak…, Tak banyak orang yang sabar dan mengerti menyikapiku dengan bijak. Tak banyak yang bisa mendiamkan pikiranku yang sedikit liar, aneh dan kadang kebanyakan “ngga perlu”nya. Tak banyak yang bisa mengarahkan pikiranku yang melompat-lompat. Tak banyak yang sabar menghabiskan waktu menjelajahi hutan ketidakseimbangan-ku dan bersedia membantuku tumbuh kembang produktif…. Tak banyak…

Selebihnya adalah mereka yang hanya bisa menghujat, mengalungkan title liberal, cewek “ga genah” atau macam-macam. Mereka hanya bisa mewarnaiku dengan spidol-spidolnya. Hitam untuk wanita sesat (Alhamdulillah… selama ini belum ada yang menggelariku fasiq atau kafir), Merah untuk bad mark ladies. Kuning untuk “hati-hati” untuk dijadikan teman atau pasangan hidup. Dan kau? kalau kau pun terpaksa mewarnaiku… Kuharap kau mewarnaiku dengan warna transparan.. Kemudian berikan kumpulan spidol berwarna warni-mu kepadaku. Biarkan aku sendiri menggambar karakter perjalanan hidupku.

Seingatku ada beberapa orang inspirator dan fasilitator sepanjang 23 tahun hidupku ini. Beberapa muncul saat aku mondok di pesantren dulu. Beberapa kutemui saat aku di negri seribu menara. Selanjutnya kami berpisah, sibuk dengan urusan masing-masing, kuliah, cari uang atau menikah. Hanya sesekali bertegursapa lewat dunia maya atau message via handphone. Salah satu dari mereka menikah dan jadi Pak Ustad di salah satu kota di Jawa Timur, mengajarkanku untuk berpikir positif dan optimis berani untuk mengambil kesempatan yang ada. Satu teman akhirnya menikah (indahnya) dengan teman perempuanku juga dan sekarang mereka sudah punya anak satu. Ia selalu mampu membakar semangatku dan cerdas memilih kata-kata pujian yang tidak tampak sedang menghiburku: “Lledakan-ledakan kecil itu sebenarnya potensi besar, hanya butuh kesabaran untuk mengelolanya”. Satu teman adalah seorang single kreatif inspiratif dan produktif, tempatku dulu “ngangsu kawruh dan mengenalkan aku sisi lain hidup di Kairo, napak tilas jejak peninggalan dinasti Islam sekitar Khan Khalili. Kini ia sedang bergulat dengan ekspedisi pencarian makna kehidupan dalam naungan teduh langit Jogjakarta. Oh Allah… pintaku satu… Kau lindungilah dia di sana sehingga yang dia temukan adalah kebenaran dan kedamaian.

Tentu saja mereka tidak bisa optimal membimbingku seperti dulu. Lagipula siapa yang mau mengorbankan dirinya untuk mengurus orang lain sepenuh hatinya kecuali ada ikatan cinta. Adakah cinta sebagai motif yang membuat kita berkorban seperti itu? Kecuali cinta ibu kepada anaknya atau matahari kepada manusia, adakah orang berniat murni membantu dan sharing banyak dengan oranglain tanpa tendensi? Ok lah, tak usah dipersoalkan … mereka juga punya kepentingan dan tujuan hidup masing-masing. Atas hak apa aku mengekang orang untuk selalu siap sedia memberikan bantuan inspiratif. Bagaimanapun bagiku mereka semua adalah karunia besar dalam hidupku. Secara tidak langsung mereka turut serta membentuk diri dan profil hidupku yang sekarang ini.

Kebanyakan dari inspiratorku adalah laki-laki. Karena reason dan pola pikir mereka, menurutku, lebih menyakinkanku dari perempuan. Entah kalau aku salah…Wanita lebih mengedepankan perasaan dalam sesuatu hal. Setidaknya aku merasakannya, karna aku perempuan. Atau buat begini saja, aku belum menemukan perempuan yang bisa menjawab kegelisahan-kegelisahanku kecuali sedikit. Mmm… Makanya jangan heran, Sam. Sejak dulu aku ingin punya suami saleh yang bisa menjadi guru kehidupanku. Shalih vertical dan horizontal. Artinya ia tidak hanya rajin beribadah tapi juga shalih berkomunikasi dengan insan dan alam sekelilingnya. Sehingga aku selalu bisa belajar banyak hal darinya atau sama-sama mengkaji sesuatu yang kami belum tau dengan (ny)aman. Ia bisa mengarahkanku ke jalan yang benar, membetulkan jika aku salah tanpa harus menghujatku. Karena menurutku setelah menikah seharusnya wanita bukan hanya tenggelam dalam tumpukan baju, piring dan gelas atau terpolusi oleh kepul uap periuk nasi saja. (Eh, jaman sekarang udah pakai rice cooker ya, Sam?) Kedengaran seperti prinsip feminisme, Sam? Ah, aku tidak perduli dengan feminisme. Adakah nabi Muhammad membatasi gerak langkah seorang Aisyah dalam belajar? Justru Sayyidah Aisyah RA lah seorang faqih yang disegani dan dijadikan rujukan di kalangan sahabat dan sahabiyat karna iklim edukasi kondusif dan konstruktif –yang (ny)aman- yang diciptakan oleh baginda Nabi . Bagiku pernikahan adalah seperti sekolah kehidupan, Sam. Aktivitas belajar dan transfer ilmu seharusnya tidak berhenti setelah iijab kabul. Hak istri untuk mendapatkan bimbingan dan fasilitas pembelajaran dari suaminya. Ya, belajar untuk bekal kehidupan di akhirat kelak…Maka aku rasa akan sangat bagus jika ada orang yang selalu sedia menjaga, membimbing dan membersamai tumbuh kembang seorang wanita dan bersamanya kelak menumbuhkan benih generasi baik masa depan.

Sam, banyak yang harus dibenahi dariku. Penyakit macam-macam yang kuderita. Aku dengar kau seorang yang lebih generalis ketimbang spesialis. Kamu bisa dan tau macam-macam bidang. Hmmm… sama denganku, Sam… Aku selalu tertarik dengan hal-hal baru. Bedanya mungkin di tingkat kematangan ilmu yang dipelajari. Kau masuk sampai akar-akarnya. Kalau aku belum selesai dengan satu perkara, sudah pindah ke benda baru. Konsep-konsep penting yang “pernah” menarik antusiasku tidak terakumulasi matang di otakku. Sehingga membuat logikaku terlihat rancu .

Penyakit kronis sebuah stagnasi “Pengujaran Pikiran” juga menjangkitiku. Balon-balon makna yang tervisualisasi dalam pikiranku tidak bisa efektif terkoneksi dengan syaraf impuls di otakku. Sehingga yang terjadi adalah otak mengirim signal putus-putus ke lidah. Hal ini menyebabkan kata-kata yang keluar dari mulutku tidak beraturan dan jika didengarkan seringnya keluar tidak sesuai dengan apa yang pikiranku inginkan. Wah, kenapa bicaraku mendadak seperti scientist saja ya. Mmm, itu barusan kubaca disebuah artikel kedokteran di internet sehari yang lalu. Pikirku saat itu mungkin aku ada physical disorder. Kalau menurutku ada benarnya juga, sih. Hehehe…

Oh, ya. Menurut analisisku pribadi, aku juga memiliki mental disorder, Sam. Seperti yang kau katakan beberapa malam yang lalu: Ketidakseimbangan. Nah, parahnya lagi penyakit stagnasi “Pengujaran Pikiran” makin kronis karena didesak rasa takut akan terulangnya pengalaman tatkala aku gagal untuk memahamkan lawan bicara. Kau tau itu, Sam… Berapa kali aku tergagap-gagap berbicara dan mencoba mengungkapkan pendapat denganmu. Kadang aku lebih cenderung memilih untuk diam seperti orang bisu atau terjangkit sariawan. Itulah mengapa aku lebih suka menulis daripada berbicara walaupun aku juga tau tulisanku sering tidak bisa dipahami atau dimengerti oleh pembaca. Kalau sudah begini, aku ingin kamu masuk ke otakku, lihat saja kumpulan slide gambar-gambar bergerak yang tervisualisasi di sana. Agar kau simpulkan dengan sukses apa yang ingin kukatakan.

Banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu, Sam. Being A Freedom writer… Sementara ini mungkin aku lebih nyaman untuk menulis apa yang ada dalam otakku. Kau tak harus ada selalu di sampingku. Kebutuhan minimalku terhadapmu hanya kebutuhan untuk didengarkan. Lebih dari itu seperti sharing hal berkaitan pengalamanmu, “editan kritis”mu akan pikiranku, dan pelurusan jalanku dengan cara bijak- akan sangat kutunggu-tunggu dan kuapresiasi. Anyway, tak ada paksaan… Kau bebas…

Banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu, Sam. Harapku simple … Sesekali mampirlah kemari… Itupun jika kau berkenan untuk tetap mendengarkanku, untuk extra sabar meladeni ke”ngeyelan”ku dan untuk menuntun dan membersamai langkahku berjalan mencapai cahaya kedamaian.

Gombak, 24 May 2009

Curhat Senja…



Thursday, January 01, 2009

KANGENNNNNNNNNNNNN




















Mendadak rindu Kairo... Ga tau kok bisa ampe nangis gini. T_T

Ga lagi pengen posting apa2.

Just wanna say: "Aku rindu Banget aMa Mesir"


Ya Misr,Wahesytini Awi....


(Pic: My neighborhood in Cairo, Swessry A , Ten district)

Friday, November 14, 2008

Geliat Islam Pinggiran; Potret Pergolakan Pemikiran Islam Terpasung

Dalam sejarah pemikiran Islam, selalu saja ada wacana hegemonik. Kebenaran di standarisasikan secara konvensional selaras dengan kepentingan penguasa dan nalar golongan yang bernuasa fanatis. Ada mainstream pemikiran yang berupaya merumuskan dengan berpijak pada kebenarannya sendiri, yang menabrak pagar kebenaran konvensional. Keduanya bergesekan dan bertabrakan. Bahkan berujung pada sebuah cerita klasik dan klise, sehingga arus wacana besar menggilas dan melumat arus wacana kecil yang minoritas. Dan pada akhirnya, eksistensi wacana kecil berada di pinggiran, serta wacana besar menjadi garda depan untuk merajainya.
Sadisnya, kebenaran di bumi yang mesti bersifat relative, menjadi kebenaran tunggal yang absolute. Para pemikir yang menyuarakan kebenaran lain- dengan penuh kesadaran bahwa kebenaran manusia adalah kebenaran relatif- dibungkam. Karena itu, perlunya menyuarakan jeritan mereka yang telah lama tersekam dengan saputangan penguasa; penguasa politik yang merasa berkuasa atas kebenaran di bumi.

Demikian review singkat dari sebuah buku hasil karya rekan-rekan al-Mizan Study Club Cairo yang berjudul Geliat Islam Pinggiran; Potret Pergolakan Pemikiran Islam Terpasung. Kerja keras rekan Mizan dalam penerbitan buku setiap tahun perlu diapresiasi. Betapa tidak, buku ini hanya salah satu dari buku-buku hasil kajian berikut paket presentasi rutin selama beberapa bulan para Mizanist. Walau saya sudah amat lama tidak....aktif lagi disana (perhaps, karna ga’ kuat mikir. Hehehe… ^_^), saya turut bangga mendengar gaung nama study club ini makin berkibar di pentas dunia pemikiran Mahasiswa Mesir.

It Contents (268 pages) :
1. Laits bin Sa’ad: Tokoh pembaharu yang terlupakan
2. Ahmad bin Nashr al-Khuza’i: Antara Amar Ma’ruf Nahi munkar dan pengafiran
3. Ateisme dalam Islam: Apakah Ibnu Rawandi sebagai misal?
4. Ikhwan al-shafa wa Khullan al-wafa wa Ahl al-Hamd wa Abna’ al-Majd; antara Misteri dan Universalitas
5. Abu Hayyan al-Tauhidi; Tokoh Kontroversial islam Klasik (Kajian tentang Biografi dan peta pemikiran sang tokoh
6. Liberasi pemikiran ala Ibnu Rusyd ( Upaya memerdekakan rasio yang terbelenggu)
7. Ibnu Sab’in: Sang Penggagas Wahdah al-Muthlaqah
8. Ibnu Khaldun; sang Perintis Filsafat Sejarah (Sebuah Arti Kontribusi bagi keberlangsungan peradaban)

Jadi teringat masa saat saya buat makalah presentasi Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-wafa dulu. Ia saya beri judul “Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-wafa: Mutiara yang terpendam” hehehe… sok nyastra tapi ga nyambung sama isinya. Sebuah makalah yang tanpa persiapan matang , coz sumber bacaannya susah banget diartiin. Maklum… kapabilitas saya dalam bahasa arab dan analisis tidak memadai saat itu. (Yach tau bodoh tapi ga di upgrade2 ya otaknya…hehehe ^_^ Lah ini juga lagi dalam proses upgrade, walau dengan jalan merangkak dan dengan kecepatan pemahaman belajar yang lambat, n walau lecturers nya juga sampai pada menaruh rasa kasihan padaku… ^_^ daku harus tetap kuliah lagi… hohoho)
Yang jelas, buku ini kenang-kenangan berharga bagi saya. Walaupun saya tidak memberikan kontribusi berarti dalam tulisan maupun proses penerbitan. Bravo Mizan! Keep on fighting … ^_^
So, ni dia Ikhwan al-Shafa yang dirombak habis2an sama bro Suhe ^_^. Here I just want to give you a brief prolog of Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-wafa from this book. Detail-nya?Cari aja bukunya ya…hehehe ^_^

Ikhwan al-shafa wa Khullan al-wafa wa Ahl al-Hamd wa Abna’ al-Majd; antara Misteri dan Universalitas

Dinamika kehidupan manusia seiring dengan cara pandangnya terhadap hakekat dirinya dan alam yang melingkupinya. Alam itu adalah manusia di sekitarnya, hewan, tumbuhan, bumi, air, udara, langit, perbintangan di atasnya dan Tuhan denga segenap “perangkat” kegaiban-Nya. Pemahaman tersebut menjadi ruh efektif yang menjadi pusat pergerakan seluruh roda kehidupannya. Hingga cara pandangnya terhadap segala hal, tak luput dari pengaruh pemahaman yang telah mengendap, meresap dan meng-idiologi dalam dirinya.
Inilah pintu gerbang yang penulis masuki menuju “rerimbunan” kelompok Ihwan al-Shafa. Kelompok yang sarat dengan kemisteriusan, namun diiringi dengan klaim superioritas universal yang melingkupi seluruh genosis pengetahuan manusia yang ada pada zamannya. Di tangan mereka seluruh disiplin pengetahuan yang dikenal manusia pada zaman itu-menjadi alat penunjuk metode pendekatan, sarana pemujaan dan pintu pengabdian pada Tuhan.
Dalam kontruksi sejarah, kerahasiaan kelompok ini menjadi dinding penghalang yang menutupi pengetahuan kita terhadap keadaan mereka yang sebenarnya. Satu-satunya peninggalan yang kita wariskan dari mereka adalah kumpulan risalah atau “Treatise (kata treatise selanjutnya akan lebih banyak digunakan) yang bernama Rasail Ihkwan al-Shafa, sebagai pandangan normative khusus kelompok ini yang mereka izinkan keluar dari sangkar emasnya, untuk dibaca dan diwariskan kepada khalayak ramai.
Rasail Ihkwan al-Shafa dapat dikatakan sebuah karya ensiklopedis yang mengilustrasikan seluruh konstruksi pengetahuan yang berkembang pada masa tersebut. Terlepas dari dugaan ada atau tidaknya tujuan politik dalam komunitas ini, ataupun kecendrungan dan tuduhan keberpihakannya, baik kepada Syi’ah Ismailiyyah ataupun Mu’tazilah, namun kepiawaian penulisnya dalam meramu dan menjadikan seluruh disiplin ilmu pengetahuan berkiblat pada satu tujuan; pengabdian kepada Sang Pencipta, patut kita jadikan panutan! Ilmu pengetahuan tak lain adalah alat. Penemuannya adalah satu proses dari kegiatan ilmiah. Adalah manusia yang kemudian menentukan kemana arah tujuan dan manfaat dari alat-alat tersebut. Pengejawantahan dari hasil yang ditemukan tersebut berkaitan erat dengan tatanan etika, nilai dan tujuan yang berdendang dalam hati dan pemikiran subjek penguasanya.
Tulisan ini dimulai dengan melihat bangunan sosio-historis yang menjadi latar belakang kelahiran komunitas Ihkwan al-Shafa. Realita social-politik-ekonomi memiliki peran besar dalam menentukan keberadaan dan metode yang ditempuh oleh seorang tokoh ataupun sebuah komunitas social. Pembahasan dilanjutkan dengan menelusuri rahasia di balik pemilihan nama Ihkwan al-Shafa wa Khullan al-wafa wa Ahl al-Hamd wa Abna’ al-Majd. Meskipun sangat erat menutupi rahasianya, namun beberapa orang tokoh utama komunitas ini dapat tercium jejaknya. Hal ini berada dalam pembahasan tentang jati diri komunitas Ihkwan al-Shafa, derajat serta penyebab pembentukan komunitas ini di lingkungan sosialnya. Adanya bias keterpengaruhan dan kemiripan antara kontruksi pengetahuan Ihkwan al-Shafa dengan beberapa kelompok merupakan pembahasan yang beriringan dengan tempat domisilinya.
Pembahasan kemudian dilanjutkan ke dalam warisan komunitas ini. Mencakup pembahasan sekilas tentang treatise tersebut dan sumber-sumber pengetahuan yang digunakan dalam proses penulisannya. Bagian selanjutnya adalah pemaparan sekelumit dari bangunan dan system pengetahuan yang dibangun oleh Ihkwan al-Shafa di dalam treatisenya. Pemaparan ini mencakup keterpengaruhan, klasifikasi pengetahuan dan asas paradigmatic integralitas pengetahuan dalam pandangan mereka. Hal ini diangkat, karena klaim menarik yang dinyatakan oleh komunitas ini. Mereka menyatakan bahwa mazhab mereka tidak berpihak kepada mazhab tertentu, namun mencakup seluruh mazhab yang ada. Para anggotanya tidak dibolehkan untuk memusuhi satupun dari seluruh ilmu pengetahuan yang ada. Dengan asumsi bahwa seluruh pengetahuan akan mengantarkan manusia kepada satu kebenaran yang sama. Sumber pengetahuan adalah satu, yaitu Tuhan, maka arah yang ditunjukkan oleh seluruh pengetahuan tersebut akan mengarah kepada satu arah kebenaran, yaitu Tuhan. Adanya pandangan yang menganggap sama seluruh disiplin ilmu pengetahuan, manhaj, mazhab bahkan agama, membuat kelompok ini cenderung didiskreditkan.
Salah satu pintu masuk ke dalam bangunan filsafat Ihkwan al-Shafa adalah ilmu-ilmu angka yang terdapat dalam cakupan ilmu matematika. Angka dan filsafat angka memiliki kedudukan yang sangat krusial dalam ajaran Ihkwan al-Shafa. Bagi mereka, ilmu ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan ke-Esa-an dan kebesaran Tuhan. Pembahasan dilanjutkan dengan melihat ranah aplikasi atau pengejawantahan dari filsafat angka yang menjelma ke dalam urutan dan derajat wujud seluruh makhluk dalam hirarki wujud yang disusun oleh komunitas ini. Di bagian akhir dari tulisan ini, diikut sertakan tambahan kerangka atau daftar isi dari limapuluh dua treatise Ihkwan al-Shafa. Disertakan dengan gambaran singkat seluruh treatise tersebut. Warisan Ihkwan al-Shafa adalah lautan yang sangat luas. Patokan dalam prolog ini adalah batasan dari penelusuran yang dilakukan.

Friday, October 17, 2008

23 Tahun Dengan Nafas-Mu

Pagi tadi aku bermandikan sinar mentari. Hmm,jarang hangatnya kurasa senyaman tadi. Aliran sungai di kampus membuat nada yang selaras indahnya dengan senandung burung yang selalu bertengger di depan jendela kamarku tiap pagi. Ah, nikmat Ilahi.

Sejurus kemudian pandanganku beralih pada bukit “Barisan Anak Gajah”. Aku tak tau harus menamakannya apa. Konon,begitu para mahasiswa kampusku menyebutnya. Karena bentuknya yang seperti gerombolan anak gajah berjalan menuju puncaknya.

Hanya sekedar untuk menge-check apakah bukit yang menjulang tinggi ke angkasa itu baik-baik saja. Bukit yang sedikit special karena dia sahabatku. Sahabatku tempat aku berbagi rasa. Rasa rindu pada seseorang. Entah siapa itu, aku pun belum tau. Yang hanya aku tau... Baca selanjutnya

memandangi bukit itu, mengekalkan makna bahwa aku dan dia dinaungi atap yang sama. Dan semoga Tuhan melindungimu, di belahan bumi manapun engkau berada.

Dan langit pun tiba-tiba berubah mendung kelabu siangnya. Disusul hujan yang membasahi kawasan Gombak dengan hutan alaminya. Aku urung mempercepat langkahku, lebih memilih berjalan setapak demi setapak dalam hujan rintik-rintik. Yang kian lama hujan deras mengalir begitu saja di jilbabku, turun membasahi keningku, dan membanjiri kalbuku. Tuhan, terimakasih kau beri aku nafas hari ini.

Kacamata yang bertengger di batang hidungku berkabut tak jelas. Walau begitu kakiku menginjak genangan air hujan dengan pasti. Ah, sudah bertahun-tahun aku tak mandi hujan. Maka biarkanlah aku basah kuyup seperti ini, melangkah pelan, berusaha menikmati refleksi kenikmatan berbaur dengan alam. Inilah saat kenyamanan yang memeluk erat rasa syahdu dalam batinku. Bergelora menghentak rasa ingin bebasku dan berucap: “Hari ini adalah hari milikku.”

Disela gemuruh suara air hujan, lagu “dengan nafas-Mu” dari UNGU terngiang di telingaku. Satu rasa satu cita...

“Dan demi nafas yang telah Kau hembuskan dalam kehidupanku, ku akan berusaha menjadi yang terbaik Menjalankan segala perintah-Mu, menjauhi segala larangan-Mu dan itu adalah sebaris doaku pada-Mu”

Happy belated birthday, Win. Semoga Allah selalu menuntun dalam setiap langkahmu. Kadang Allah sembunyikan matahari, bahkan Dia datangkan petir dan kilat... kau menangis dan bertanya-tanya kemana hilangnya sinar...Oh, rupa-rupanya.. pada akhirnya Allah ingin hadiahkan kau pelangi..

Kita hanya bisa berencana. Allah yang menentukan. Karena itu tulislah dengan pensil segala rencanamu dan berikan penghapusnya pada-Nya. Agar Ia menghapus semua bagian-bagian yang salah dan menggantikan dengan rencana-Nya yang lebih indah di dalam hidupmu.
Moga Sukses dunia akhirat, Win.

Dua puluh tiga tahun dengan Nafas-Mu
Gombak, 17 oktober 2008

UNGU-Dengan Nafas-Mu


Monday, September 15, 2008

Sowan ke kampung Imam Khomeini ^_^

Hari ini saya mau melampiaskan kekesalan dan kelelahan saya ngurus tiket pulang kampung buat lebaran ini. Yah, rada frustasi sih... seharusnya kan gampang aja...kayak saya mesan tiket online. Ugh...abis sebuah travel Malaysia di Kualaa Lumpur ini mau main-main aja dengan saya ya. uang dah ditransfer, ech tiket hampir setengah bulan lum dibeli. Ugh... saya samperin aja tu travel Jum'at lalu... eh satu kantor ketakutan semua... hohoho... (emangnya saya bawa pedang apa?....^_^) saya ceramahin tu semua orang travel..huahuaua... biarin!! emang enak customer diperlakukan seperti ini. Masalahnya tiket lebaran githu loch... lebaran, Man! 4 tahun kagak pulang lebaranan.Tarik napas kejap.... Uhuk ...uhuk... Puasa, Win... kontrol Emosi dong... Alhamdulillah hari ini dah dapat tiketnya...

Ugh... so hari ini biar agak bermanfaat emosinya disalurkan aja buat nulis yang baik2....^_^ Kali ni mo langsung nulis aja.. n ga pake english...coz capek nyari translation kata2nya di kamus... ^_^ banting tulang jugak...hehehe...Ntar lagi kapan2 english nya, Ya... N kali ni mau nulis yg ga terlalu ilmiah. Coz saya baru exam ttg Muslim Nation in Contemporary History, salah satu materi membahas Iran..tapi ga keluar seh soal ttg iran tadi . jadi teringat2 jalan2 di Iran... Mmmm... click read more ya teman2....

Backpaking ke Iran
“Menyusuri Budaya Kaum Syiah di Negeri Imam Khomeini”


Tak terbayang sebelumnya pergi ke Iran adalah sesuatu hal yang mudah untuk dijalani. dibanding pergi ke Syiria, Arab Saudi, Lebanon dan Negara-negara konflik kawasan timur tengah lainnya. Hubungan international antara Iran dan Indonesia sedang baik-baiknya. Terbukti dengan visa yang didapat dengan mudah sekali tanpa adu mulut sperti yang saya jumpai di Negara kawasan timur tengah lainnya. Kita bisa dapatkan visa on arrival di bandara internasional Imam Khomeini untuk tujuh hari itupun masih bisa diperpanjang. Ngajuin visa ke Syiria duh duh... kemaren kesangkut di visa saya yg cuma tinggal 2 minggu di Kairo dan sudah lulus dari azhar, so saya ga dapat keterangan student university. Kalau ke Turki, wah kudu punya account ribuan dolar gitu. Mana antri untuk dapatkan nomor urut masuk ke dalam bangunan aja susah amat. Turki jual mahal banget.... hiks :(


Iran dulu adalah negara tempat para Zoroaster (penyembah api) atau biasa disebut kaum Majusi, tempat berkembangnya sekte agama Syiah. Iran juga terkenal dengan estetika ornamen dan bangunan yang indah juga anyaman karpet tercantik di seluruh dunia. Packing segera tas anda, saya jamin tidak akan menyesal!

Jilbab Yes, Celana Pendek No

Sesampainya di bandara internasional Imam Khomeini yang baru saja berdiri, angin Islam sangat terasa di Negara Persia ini. Semenjak transit dari Bahrain, saya sudah mendapati perempuan yang berada di atas pesawat telah bersiap-siap memakai jilbab atau lebih tepatnya selendang ala Bu Tutut. Rupanya baru saya tau kalau ternyata kerudung diwajibkan oleh pemerintah Iran baik warganegara atau warga asing, muslim atau non muslim. Dress code untuk memasuki Iran, bagi perempuan adalah kerudung dan stelan pakaian sopan dengan blouse panjang minimal yang menutup hingga sepanjang lutut Begitu juga dengan laki-laki,mereka dilarang memakai celana pendek. Ini demi merepresentasikan Islam di kehidupan sehari-hari.

Transportasi khusus perempuan
Iran relatif aman. Ketika itu saya sampai di Iran jam 12:00 malam. Taksi ynag saya tumpangi dikoordinir oleh pihak bandara. Supirnya juga sopan tidak macam-macam atau jelalatan. Kedudukan wanita benar-benar dijaga dan dihormati. Ohoho..Bagi perempuan jangan pernah coba naik taksi sendirian di Negara Timur tengah lainnya kecuali sudah lama menempat dan mengerti seluk beluk kehidupan disana.

Ketika esok harinya saya menaiki bis yang dipisahkan pembatas, bis dibagi dua bagian depan untuk pria dan belakang untuk wanita. Begitu juga metro atau train bawah tanah Pria dan awnita yang bukan mahram tidak diperkenakan duduk bersampingan. Begitu juga jika ingin naik taksi bisa saja perempuan naik taksi khusus yang supirnya juga wanita.

Banyaknya Kotak sedekah Sedikitnya pengemis

Pemandangan yang menakjubkan bagi saya, Ketika saya berjalan keluar di hari pertama saya disana, yang mencengangkan adalah kotak-kotak sedekah di sepanjang pinggir jalan. Guna menghimpun dana untuk anak yatim dan fakir miskin pemerintah Iran punya jalan tersendiri. Pemerintah Iran menghimbau rakyatnya agar menyisihkan sebagian harta mereka untuk kaum dua’fa. Kesadaran mereka akan hal ini sangat perlu diancungi jempol. Karena terbukti kotak- kotak itu berjalan sesuai dengan fungsi yang diinginkan. Wah, kalau sistem ini dapat diterapkan di Indonesia mungkin dalam hitungan menit bakal dibobol maling. Coba saja cari pengemis di sana, Mungkin tidak sebanyak yang kita jumpai di Indonesia. Benar juga kata teman saya, pemerintah juga menhimbau agar jangan memberi uang para pengemis di pinggir jalan. Ini karena mereka sudah mendpat jatah dari kotak-kotak di pinggir jalan. Sehingga tingkat kemiskinan disini rendah dan bisa dikelola dengan system yang baik oleh pemerintah. Uang yang terkumpul dalam kotak itu setiap hari akan di check dan ditampilkan jumlahnya di layar televisi milik pemerintah Iran.

Hidung Mancung, Operasi Plastik?
Tehran, ibukota Iran.
Sering kali saya jumpai di tengah jalan, perempuan juga laki laki yang masih tersisa plaster di batang hidung mereka. Itu tak lain adalah bekas operasi untuk memperbaiki bentuk hidung mereka yang terlalu mancung. operasi plastic Sudah merupakan hal yang biasa bagi mereka walau muslim. Hmm, tapi menurut saya sebenarnya hidung mereka sudah proporsional dengan struktur wajah mereka. Wah, jika saya berhidung mancung seperti mereka mungkin saya tidak akan operasi lagi. ^_^

Hari Jum’at, Satu Mesjid untuk Satu Provinsi

Susah sekali mo sholat Jumat disana kata kakak kelas saya. Ketika sampai di ISfahan, subuh dini hari, saya sholat di surau terminal. Wah, sepertinya saya yang paling aneh disana,sempat jadi bahan liatan oleh orang sekeliling. Soalnya saya ga pake batu petak dari tanah liat, saya lupa apa namanya, yg jelas klu muslim Syiah biasanya bawa batu itu kalau mo sholat, katanya sebagai representasi kening harus menyentuh tanah. N kalau seharian saya sholat 5x. Mereka cuma 3 kali sehari... :)
Penasaran mau mendengar azan khas Syiah... saya coba nguping tapi selalu ga bisa dengar jelas. Azannya kan beda ma Muslim Sunni:)

foto sebelah ini: Di Imam Square- Esfahan. lagi hunting iranian ornament books. ^_^

foto paling atas: di AliQopu Bazaar- Esfahan
Tradisi buang bunga, buang sial

No Ruz adalah hari raya mereka. jatuh tiap 21 maret. Tahun baru Iran. Tutup slama 10 hari. Hotel-hotel terbooking ketat selama tanggal 10 maret sampai 5 april.Berbeda dengan Negara Islam lainnya, Iran masih mewarisi budaya nenek moyangnya. Tak lain tak bukan adalah Bangsa Persia atau biasa dikenal dengan sebutan kaum Majusi. Mereka adalah golongan penyembah api. Rakyat Iran berpedoman dengan penanggalan dua kalender dalam penentuan waktu dan hari. Salah satunya dengan menggunakan kalender Persia. Hari pertama dari hari raya mereka, biasanya jatuh pada hari rabu. Pada hari itulah, mereka berkumpul bersama keluarga dan melompati api unggun. Pada hari terakhir pula mereka keluar rumah bersama-sama. Berkumpul di taman sambil menunggu magrib. Setelah magrib tiba mereka akan membawa pot berisikan rumput gandum untuk dibuang. Ini bermakna dengan membuang rumput maka terbuang pulalah sial. Demikian lah tradisi ini merupakan bagian dari kepercayaan bangsa Persia.

Sebenarnya saya salah waktu datang ke sana.Karena banyak yang libur objek wisata. Oya, Hal yang paling krusial sekali!!jangan lupa bawa cash ke Iran! kartukredit or debt card bank non-Iran tidak diterima disana...

Uhuhk uhuk...capek juga ya nulis panjang sambil melampiaskan kemarahan...^_^ Ya Rabb irham do'fana :( Ya dah...sampai sini dulu... maaf atas ketidakaturan susunan kata2 dan bahasa2 yg ga sopan... kapan2 cerita lagi yang lebih utuh... Ok ;) Khoda khafez!!*

p.s: Khoda khafez = Selamat tinggal (bahasa Persia)
foto terakhir ...itu bunga gandumnya ^_^

Saturday, September 06, 2008

Islam and my superficial understanding

Surprised that a couple months ago someone called me in YM Chatting window "Hai, Pemikir Liberal. Apakabar?" what?! Double checked to make it clear... my eye still works well, doesn't it?I really saw "Liberal" written on his chatting window.

i try to think What's wrong with me. Did i write something so liberal or what on my blog? I think my blog contents are more about fun, my simple daily life and traveling. Did i say "liberal opinion" in some issue? I dont think so... i am just ordinary woman...^_^ hehehe... writing or speaking or interesting to something insignificant and not so serious things.

Yah.. i realize that...i still dont know Islam, my religion, well. Need to read many books and also my "analytic knife" still must be whetted . oya, this is my writing about Islamic socialism... click read more,please

PS: Anyway.... if only someone could borrow me a best "Pisau Analisis" and stopping my occasional rebellion mind.... ^_^ Hehehehe...


Islamic Socialism: That Misunderstood Word
Peeling the history root of an adapted western ideology


A tickling statement to be analyzed, the image that Islam and Socialism is one inseparable unity, has been raised among moslem world. The economic ideology in Islam almost can not be separated from socialism paradigm. Some of Moslem thinker- those named “religious socialist”- assume that Islam actually contains such “socialism” not as intellectual discourse only but also have practiced in prophet Muhammad era. Even it is more leftist than the left. Initially, this thing relates with the root of Islamic ideology its self which full of socialism history.
The question is what kind of socialism which have been taught by Islam? Why the other moslem thinker doesn’t want to approve communist socialism?
We stand, therefore, between two philosophies that we must study, in order to find the sound ideological principle of life on which we must establish our social and political awareness of the affairs of the whole world. Its’ good when we start from what is overlooked by these different views is that term like “socialism” is product of recent thought and connote a state of affairs which did not exist at the time when Islam made its appearance in the world.

Islam in its economic aspect has been identified by some in its teaching ample evidence to justify a socialism form of society and it is one of the fundamental pillars of Islam. How can we logically reconcile atheist, materialistic Marxism to pure noble monotheistic islam? Each categorically reject the others.

Marxism established on an ideological principle which is the philosophy of dialectical materialism. This glittering western ideology lacks even an accurate definition that can determine its meaning and clarify its nature and basic concepts and that is why there is always ambiguity and dissagrement between its founder and advocators. Socialism concept changes from one generation to another and from one era to another. Whenever it goes, violence and bloodshed follow!

Marx began the Communist Manifesto with the statement “The history of all hitherto existing society is the history of class struggles”. His theory also emphasized that private ownership must be canceled and fully obliterated from society. All wealth must be appropriated by everyone and handled by state. Marxism ideology emphasized that the communist revolution can make proletarian’s life become better. But it’s just the same whether before or after revolution, eventually the existing system was hold by communist party, poor citizen were oppressed too by them. Like we can see from communist revolution in Russia.
Islam is not an outcome of a conflict within a class based community in the arab Tribe of Quraysh; but was a super-structural phenomenon independent of the environment. From the start Islam established the principles of equality of opportunity, balanced income, private and public ownership. Its teaching did not happen as economic pressure.

Islam, on the other hand, reserves for itself an ideological principle of life that has its own method of understanding life and its specific scales. The economic system of Islam is ‘divine’ principles but ‘humanist’ in its application. Unlike communism, Islam does not sacrifice the individual for the good of the community and unlike capitalism, it does not sacrifice the community for the good of the individual. Marx could trace no influence of ‘divine’ factors, only material factors had such influence.

Material and spiritual consideration go side by side in Islam and it amounts to the denial of Islamic doctrine itself if the two area torn apart from each other. The Prophets’s own practical life was a symbolical synthesis of these two phenomena.

How if we remove its materialistic and atheistic element? What will be left of it? Will it still be Marxism? Marxism attempt to survive with associating itself in such as opportunistic manner with its enemy, Islam. Best proof that as system of thought Marxism has for along time been dead and buried. Islam is perfect tough simple, is more advanced than all later social codes, capitalist , communist, socialist. Why we must need to borrow foreign ideas or resort to ridicoulus ideological paatchwork.

Term “socialism” is a misnomer to be coupled to Islam. Islam not only deal with economic matter but also spiritual, social and even sex problems. Islam can furnish guidance on contemporary economic problems, however the different their nature may have become. May apply in any society and at anytime. We shall not describe Islamic mean as ‘socialism’ to avoid the ambiguity and dissagrement meanings of that deceptive word. It is better to state it by social justice.

And It’s wrong to assume that Islam is either capitalist or communist, or that it is a mathematical mean between the two systems- or even a combination of both. Islam is in effect a distinct economic system, based on different principles from either, even if it agrees with one system or another on this point or that. Islam proceeds from the need to establish harmony, cooperation and solidarity rather than class strife and contradictions.

This is why Islam does not recognize ‘left’ nor ‘right’. There can be no alternative to the truth; if we divert our steps from it by taking a path on its left, or a path on its right, we will have deviated from the truth. On both sides of the truth only ‘untruth’ -wrong doing- may be found.

Reference:
1. Assiba’i, M. (1960). Isytiraakiyyat al-Islam. Damsyiq: Daar al-Qaumiyyah li at-Toba’ah wa an-Nasyr.
2. Enani, M. (1990). Marxism and Islam. Cairo: Cairo University Press

Thursday, August 28, 2008

It's time to explore Malaysia... ;)

Yup, refreshing after taking midterm exam yesterday. Not bad i think. 3 subject : Modern europe by Dr. Hafiz Zakariya; Introduction to History and civilization and Islamic Civilization by Prof. Hassan Thaha Yassen as well. the last two subjects were not bad, i think. The first one is totally bad! :( My first midterm when my brain suddenly be stagnant. Nervous and the all vocabularies were gone. Ugh... that time i hold the pen and can smile only. Triying to recall the english vocabularies i have but it didn't work. ya sudahlah...yg Berlalu biarkanlah berlalu...:)

Today i am exploring Petaling Jaya, guys. Not exploring it as one of exotic ancient cities like Cairo but a civilized metropolitan city. Yup,everything is settled! umbrella (coz this's rainy season), pen n note, handphone, UIA Matric card and passport (this if you dont want to be ... dropped into jail by RELA, ^_^), n also the new thing to bring along today is book "Answering though question in interview for DUMMIES".

yach, i am doing my survey for the location where i want to get an interview as a theacher there... or CIKGU... ^_^ i am wondering how it will be... called by CIKGU Wiwin? Waks... i dunno either...Xixixi ( isy isy... Cikgu ni tak boleh lah gelak kuat sangat macam ni... Uhuk uhuk...^_^) actually this is ma first job interview.Dunno what happen later on...

"Shaky smile mode on" :D

The weather was good. Sitting and looking to twin tower "Petronas" beyond the train mirror really make me excited. how if it is compared to Pyramid? ^_^


recently, my favorite place to go in Malay is KL Sentral. This is just like a point that can transfer you to every place you wanna go in Malaysia using many transportation there. Komuter, Monorail, LRT, KLIA Express, skyway bus to LCCT airport.

For komuter i have felt it one time when went to UKM (Universiti kebangsaan Malaysia) Bangi.The most favorit place to go by Monorail is hunting notebook and other electronics in Plaza LawYat. Also to the Times Square for going to DIGI counter only. coz i am not a so called "shopping queen" (Selain duit takde jugak...hehehe). But honestly speaking..i am 80% Digiholic woman tough. cant survive without digital equipment, handphone and internet... hohoho...pathetic

LRT = i am 99% addict to this train... hohoho.Really, it's like Metro Anfaq in Cairo. KL central its self is just like Ramsis or Tahrir Square in Cairo. A port that transfer you to whole domestic trips within Egypt. Yach... although as crowded as Ramsis Square but KL central is tidier and more structurized.The dust in Ramses and Egyptian sweat and stocking smell was very familiar with me...hohoho...One more thing, I love the cleanness in Malaysian toilet and surau.

generally speaking...we must be Very taft when exploring Cairo!! Fill your stomach with enough food before it. If no you'll collapse on the way. For me, i always use Minyak Kayu Putih bile dah mabuk2 kat jalan di kairo. HEhehe...jaman sudah merdeka kayak gini masih aja pake Minyak Kayu putih!! In Egypt waiting for the bus is very taking our time. maybe half of our life in Egypt was spent for waiting the bus. :D

Hmmm... Malaysian are welcoming their "Hari Merdeka" now. Selamat hari merdeka, malaysia yang ke 51:) Special event were held yesterday night in UIA. "Malam Syukuran for 24th Convocation, Hari merdeka and Ramadhan Karim" Famous Munsyid or Nasyider came, presenting their famous songs" They are Raihan, nowseeheart, rabbani, fareast, saujana, Hijaz, Syifa, and manymore with 6 ringgit ticket price only. Ugh... very cool. I took picture with them as well...but curi2 pandang lah..ghadul bashar dunk, Win. Please dech... ^_^

Nnnn... Selamat menyambut bulan suci Ramadhan untuk teman2 semua. Especially for Masisir (mahasiswa Mesir). Selamat hunting Musa'adah*. mohon maaf lahir batin atas segala salah dan silaf yang telah saya perbuat. Semoga dalam bulan penuh berkah ini kita mendapat ampunan dan magfirah-Nya. Amin.

P.S:
* Musa'adah = bantuan sedekah or zakat dari kantong muhsinin mesir or beberapa warganegara arab lainnya, berbentuk uang maupun barang (bahan makanan pokok). Biasanya banyak muncul ketika ramadhan.dan yang paling beruntung dan makmur adalah mahasiswa asing...penuntut ilmu ^_^

*sorry, bahasa englishku ga beraturan :D... yach anggap ja latihan nuliss... ^_^

Thursday, August 14, 2008

Islam and Malaysian Foreign Policy

The Malaysian foreign Policy seminars was held on 8 august 2008, in banquet hall IIUM (international Islamic university malaysia) The all speakers are best! Prof. Dr. K. S. Nathan (Deputy Director, Institute of Occidental Studies (IKON), UKM) and PROF. DATO’ MOHAMAD ABU BAKAR (Dean, Faculty of Arts and Social Sciences, UM) and Discussant (Dr. STEPHEN LEONG (ISIS Malaysia).This month is very tightly schedule! There are many seminars to attend also the midterm exam coming faster than i've predicted before. ONe of the seminars is Ijtihad and Ifta in 21th century. There are many session, whether using arabic or english language, all of them interesting. For me listening to arabic public lecture and seminar is very interesting and making my "Arabic nationalism" arise again..^_^ whenever i meet arabian in this campuss it's like meeting family which long time no see each other (Ugh..really miss egypt so much).

Back to topic...We are asked by our lecturer, DR. Hafiz Zakariya, to make an report from this seminars. Hmm... quite difficult for me to take the point because my English is not good enough. Nevertheless i try to do my best. So here it is... My report on Islamic and Malaysian Foreign Policy.. ISLAM AND MALAYSIAN FOREIGN POLICY:
HISTORICAL & CONTEMPORARY PERSPECTIVES”

Speaker: Prof. Dato’ Mohamad Abu Bakar (Dean, Faculty of Arts and Social Sciences, UM)

In fact, Islam in Malaysian foreign policy never played central role in making and formulation of the Malaysian Foreign Policy. But It doesnt mean that Malaysian foreign policy totally avoid Islamic consideration and Islamic ideas. All because from 1957 until now Islamic ideas is always permitted and accepted.

1. The beginning of Malaysian Foreign Policy in 1957-1966
A period of ten years we will find that Malaysian as independent nation have been operating in the context what we call the Western world. Malaysian has been erupt into its international thinking by supporting western such in Anglo-Malay agreement.

Malaysian concentrate to the British ideas of progress. Inspite of major determines: inspite of the Malay earlier relation with Middle East even from 1957, strong ties with Egypt since Malaysian student studied in Al-azhar university and with Saudi Arabia in pilgrimage for example. Inspite of the malay so commited to islam, Inpite of malay anti colonial struggle and inspite of political make up.

At the same time, fisrt ten years of Malaysian Foreign Policy there was no ummatic ideas OIC. There is no reason for Malaysia to react to the ummatic idea. The issue was the ideology confrontation between capitalism and socialism and the issue not islam anymore. The issue is about relation between Indonesia and Sukarno. There is supporting Indonesian call for greater Malay-Indo Melayu Raya.

A critical examination of Malaysia's foreign policy since 1957 would show its steady volution characterised by notable changes in emphasis, which took place with the change in Malaysia's political stewardship. A markedly anti-Communist and pro-western posture with close links to the Commonwealth under Tunku Abdul Rahman, our first
Prime Minister, gave way to one based on non-alignment, neutralization and peaceful co-existence. Under Tun Abdul Razak, as a member of the Organisation of Islamic Conference (OIC), Malaysia began to identify itself as a "Muslim nation." The search for new friends substantially increased the importance of NAM to Malaysia. Investments from other
than British sources began to be also welcomed.

2. The Malaysian Foreign Policy in 1967-1980

We do know Malay, Brunei, Thailand, Philiphines, Burma, and Indonesia are united under ASEAN. The destruction of Aqsa mosque and OIC ummatic politic, arise the ideas of muslim unity. Malaysia become one of the supporting country and hosted the OIC. During the birth of OIC, Malaysia is giving greater support to the Muslim banks and the Islamic university like IIUM. At the same time, Malay still kept on Western and Britain relation. Even right now one can say that among investors is Britain, Singapore and US . Malaysia has significant role in making OIC what it is.

We can say Malay relationship with the Muslim Malay in southern Thailand Patani, Mindanau, Kampuchea, etc is giving any few consideration to islam. Yes, in that sense the malay muslim in Thailand, Kampuchea are also members of the same community of muslim Malay in Southeast Asia. But also in that sense of ethnic make up is important determines. Tun Abdurrahman and Tun abdul razak were also critical to present of islam and malaynese in Southern Thailand and Kamphucea.

Finally,the big issue with this rise of the islamic consciousness associated with Darul Arqom, Jamaat Islamiayh, etc are we going to see greater Islamic orientation in Malaysian Foreign Policy? whether Malaysian Foreign Policy going to be more ideological or Malaysian leaders operationalize Islam at all levels in their Foreign Policy or islam will remain at the model or islam and Islamic city will remain within the domestic range rather than foreign policy? At least in the way in case what happen of Iraq and Saudi Arabia or there will be greater Idealization of islam in Wisma Putra with the diplomats and abbassadors going about in a more Islamic way in the articulation Islamic ideas.

This issue for Islam to be really meaningful as factor of Malaysian Foreign Policy. It must constitution ideologically speaking major context of Malaysian Foreign Policy have their personalize articulating Islamic idiom and the same time exhibiting them as islamic individual as ambassador . This not means abandoning the west or asia. All this Can be put in to place to allow the complimentary role. That issue continue and pursue that case to extended win win solution. It means in protecting islam Malay Leaders will not only the championing muslim but also the championing non muslim across the globe. Because Islam join justice and democracy. Pursueing logical aspect both muslim and non muslim. All of them become the beneficial of islam in Malaysian Foreign Policy. When we support the case of Palestinian it means we help both muslim and non muslim among the palestine .

Summaries and Debatable Issue by Stephen Leong (ISIS Malaysia):

Islam and Malaysian Foreign Policy ceirtanly has not been the major factor in Malaysian Foreign Policy especially during the early period in first Malaysian Foreign Policy . The linkages with the west and especially UK and domestic politic make it difficult for Malaysian Foreign Policy to utilize islam as its Foreign Policy instrument. It is mainly because of the reality of the situation in Malay. The make up of our own Malaysian society being multirace and multireligion and ideologically very influenced by western countries. Malaysian society looking at its own religion and islam of course cannot help but feel there is a need to reflect this in domestic behavior and also to extend possible in external behavior.

Islam and Malaysia is compare to Islam in Saudi Arabia, iran, pakisatan, where the fast population clearly are muslim and islam is the main religion, Islam in their foreign policy is very clear. And they have declared as muslim state. Malaysia is not Islamic state. Many will agree that it isn’t. Although if we remember Muhammad Mahathir told Malaysia is a muslim country. But when we ask the Islamic party they will answer that it isn’t. That doesn’t mean that Islamic ideas principal are not reflected in Foreign Policy to the extend that it is possible.

Malaysia being recognized although not muslim state but muslim is majority, as same thing as Indonesia and yet Indonesia has not been an Islamic country from the World War to Piagam Jakarta and the rule of Soekarno-Hatta. It is very much secular state. In that case in Malaysia, this principal will continue. Question as non muslim: If malaysia become an islamic state or nation? What would be the different? First, would it be possible in the first place, the political reality non muslim especially see in malaysia, can Malaysia become muslim state? It cant be, because the constitution and the make up of our society. In the other hand if Malaysia become muslim state then how Malaysia conduct its Foreign Policy? Can Malaysia set the idea as Islamic state in dealing with the rest of the world. It is difficult. Why ? In term of Foregin Policy, the domestic development there is lot to be decided. It is not the problem of Islam or problem of any religion. It is because of human nature. Simple reason is it to be run by human being and human being are weak. Human nature cannot escape from the power of ego inside them. We can learn enough examples from history..